- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- AP Photo/Dave Thompson
VIVA – selama bertahun-tahun Manchester City dikenal sebagai mesin paling stabil di Liga Inggris. Mereka jarang goyah, nyaris tak pernah panik, dan hampir selalu tahu cara mengunci kemenangan. Namun musim ini, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aura itu mulai memudar. Dan di saat yang sama, Arsenal justru tampil dengan versi paling matang yang pernah mereka miliki di era Premier League.
Hasil imbang Manchester City kontra Chelsea di Etihad Stadium mungkin terlihat sebagai satu pertandingan biasa. Namun jika ditarik lebih jauh, laga tersebut membuka pola yang menarik. City kembali gagal mengamankan keunggulan, sementara Arsenal secara konsisten mampu bertahan dari tekanan dan tetap memetik kemenangan di momen-momen krusial.
Selama ini, narasi besar selalu menempatkan City sebagai tim paling efisien, sementara Arsenal kerap dicap emosional dan rapuh di fase penentuan. Musim ini, label itu perlahan terbalik. Arsenal kini terlihat tenang saat tertekan, sedangkan City justru beberapa kali kehilangan kendali di menit-menit akhir.
Keunggulan enam poin Arsenal di puncak klasemen setelah 20 pertandingan bukan sekadar angka. Itu adalah rekor terbaik yang pernah mereka catatkan di fase ini sepanjang sejarah Premier League. Lebih dari itu, jarak tersebut lahir bukan dari kemenangan besar semata, melainkan dari kemampuan mengelola pertandingan sulit.
Kemenangan tipis atas Bournemouth dan performa solid melawan Aston Villa menjadi contoh bagaimana Arsenal kini mampu menang meski tidak selalu dominan. Mereka bisa bertahan, menderita, lalu tetap keluar sebagai pemenang. Sebuah kualitas yang sebelumnya sering absen saat tekanan meningkat.
Di sisi lain, Manchester City mulai menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Absennya sejumlah pemain kunci membuat keseimbangan tim terganggu. Guardiola tidak selalu memiliki opsi untuk memperlambat tempo atau mengamankan lini tengah ketika pertandingan mulai liar. Situasi ini terasa jelas saat menghadapi Chelsea.
Chelsea, dengan segala keterbatasannya, justru mampu memancing City keluar dari zona nyaman. Setelah bertahan total di babak pertama, perubahan pendekatan di babak kedua menciptakan kekacauan yang gagal diantisipasi City. Gol penyama kedudukan di masa injury time bukan hanya hasil satu momen, tetapi akumulasi dari tekanan yang tidak terkelola dengan baik.
https://www.viva.co.id/bola/1872053-saat-man-city-mulai-rapuh-arsenal-justru-menemukan-versi-terbaiknya
Comments
0 comment