- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- Istimewa
VIVA – Sepakbola Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional. Sayangnya, perhatian global tersebut bukan datang karena prestasi, melainkan akibat aksi kekerasan brutal di lapangan hijau yang berujung pada hukuman larangan seumur hidup bagi dua pemain dalam waktu berdekatan.
Insiden tersebut terjadi di kompetisi kasta bawah Liga 4, namun dampaknya meluas hingga ke luar negeri. Video tekel mengerikan yang beredar luas di media sosial memicu reaksi keras publik global dan diangkat oleh sejumlah media sepakbola internasional, seperti Sportbible
Kasus pertama terjadi dalam ajang Liga 4 Piala Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta saat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) FC menghadapi Kampungqu Football Indonesia (KAFI). Pada menit ke-78, pemain KAFI Dwi Pilihanto Nugroho melakukan tendangan keras ke arah kepala pemain UAD, Amirul Mutaqin, dalam perebutan bola.
Benturan keras tersebut membuat Amirul terkapar dan harus mendapatkan penanganan medis serius. Rekaman insiden itu dengan cepat menyebar luas dan menjadi bahan perbincangan warganet mancanegara yang menyoroti kerasnya persaingan di sepak bola Indonesia.
Tak berselang lama, perhatian dunia kembali tertuju ke Tanah Air. Kali ini dari Liga 4 Jawa Timur, saat pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, melakukan tendangan brutal ke arah dada pemain lawan dalam sebuah duel terbuka.
Dua insiden tersebut berujung pada keputusan tegas Komite Disiplin PSSI. Kedua pemain dinyatakan melanggar sejumlah pasal dalam Kode Disiplin PSSI 2025 dan dijatuhi sanksi larangan seumur hidup dari seluruh aktivitas sepak bola di Indonesia, disertai denda.
Rentetan hukuman berat ini dinilai sebagai langkah ekstrem untuk memutus rantai kekerasan di lapangan. Namun di sisi lain, kasus tersebut kembali membuka citra negatif sepak bola Indonesia di mata dunia.
Alih-alih dikenal karena perkembangan kompetisi dan pembinaan pemain muda, sepak bola nasional kembali menjadi perbincangan global akibat insiden yang mencederai nilai sportivitas dan keselamatan pemain.
Sorotan dunia ini menjadi peringatan keras. Tanpa pengawasan ketat dan edukasi fair play yang berkelanjutan, sepak bola Indonesia berisiko terus viral bukan karena prestasi, melainkan karena kekerasan.
https://www.viva.co.id/bola/1873510-memalukan-tendangan-brutal-di-liga-4-indonesia-mendunia
Comments
0 comment